Halo Sahabat TutorIndonesia!
Tanah adalah salah satu komponen penting di permukaan bumi yang sering kita anggap “biasa”, padahal perannya sangat besar dalam kehidupan sehari-hari. Dari aktivitas sederhana seperti menanam tanaman, membuat kebun kecil di rumah, hingga pembangunan permukiman, semuanya membutuhkan tanah sebagai media utama. Tanah juga menjadi penyedia unsur hara dan air bagi tumbuhan, sekaligus tempat akar berkembang agar tanaman bisa tumbuh kuat.
Secara pengertian, tanah dapat dipahami sebagai lapisan permukaan bumi yang paling atas, yang memiliki batas-batas tertentu dan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Tanah tidak muncul begitu saja—ia terbentuk melalui proses panjang dari pelapukan batuan yang dipengaruhi kondisi lingkungan. Proses pembentukan tanah ini dikenal sebagai pedogenesis, yaitu rangkaian perubahan fisika, kimia, dan biologi yang mengubah material batuan menjadi “tubuh tanah” yang siap mendukung kehidupan.
baca juga: bimbel sbmptn
Table of Contents
ToggleProses Pembentukan Tanah: Dari Batuan Menjadi Media Kehidupan
Batuan adalah bahan awal terbentuknya tanah. Namun batuan memerlukan waktu sangat lama—hingga jutaan tahun—untuk berubah menjadi tanah. Perubahan ini terjadi karena pelapukan, yaitu proses hancurnya batuan menjadi partikel-partikel lebih halus, lalu bercampur dengan bahan organik.
Pelapukan dapat terjadi melalui beberapa jalur utama:
-
Pelapukan fisika
Pelapukan ini dipicu oleh faktor cuaca, seperti perubahan suhu, angin, dan curah hujan. Misalnya, batuan yang mengalami pemuaian saat panas dan penyusutan saat dingin lama-kelamaan akan retak, lalu pecah menjadi bagian lebih kecil. -
Pelapukan biologi
Aktivitas makhluk hidup turut mempercepat pelapukan. Akar tanaman dapat menyusup ke celah batu, kemudian menekan dan memecah batuan. Lumut dan mikroorganisme juga dapat menghasilkan zat yang membantu penghancuran batuan. -
Pelapukan kimia
Air hujan yang membawa unsur tertentu dapat bereaksi dengan mineral batuan, sehingga struktur batuan berubah dan menjadi lebih rapuh. Proses ini umum terjadi di wilayah dengan curah hujan tinggi.
Seorang pakar tanah bernama Hans Jenny menjelaskan bahwa pembentukan tanah dipengaruhi oleh lima faktor utama: bahan induk (batuan), iklim, organisme, topografi (relief), dan waktu. Perbedaan intensitas kelima faktor ini menyebabkan tanah di satu wilayah bisa sangat berbeda dari wilayah lain—baik dari segi warna, tekstur, hingga tingkat kesuburannya.
Selain itu, tanah tersusun dalam lapisan-lapisan yang disebut horizon tanah. Setiap horizon seolah menjadi “catatan sejarah” yang menjelaskan proses pembentukan tanah dari waktu ke waktu, termasuk pengendapan, pencucian unsur, hingga akumulasi bahan organik.
Manfaat Tanah bagi Kehidupan Manusia
Tanah memiliki manfaat yang luas, tidak hanya untuk pertanian. Secara umum, manfaat tanah dapat dikelompokkan menjadi:
-
Tanah sebagai lahan
Digunakan untuk permukiman, lahan pertanian, perkebunan, kawasan industri, ruang terbuka hijau, dan berbagai kegiatan manusia lainnya. -
Tanah sebagai bahan baku industri
-
Tanah lempung dimanfaatkan untuk genteng, bata, dan gerabah.
-
Kaolin (tanah liat putih) digunakan untuk industri kertas, tekstil, kimia, dan keramik.
-
Lumpur tertentu dimanfaatkan untuk pengeboran minyak atau cetakan pengecoran besi.
-
-
Tanah sebagai sumber energi
Salah satu contoh yang cukup dikenal adalah tanah gambut, yang dalam konteks tertentu dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif. Di Indonesia, gambut banyak ditemukan di Sumatra dan Kalimantan, juga di beberapa wilayah Papua.
baca juga: les privat terbaik
Komponen Penyusun Tanah
Tanah bukanlah benda mati yang statis, melainkan sistem dinamis yang terus berubah. Secara umum, tanah tersusun dari empat komponen utama:
-
Bahan mineral (anorganik): hasil pelapukan batuan.
-
Bahan organik: hasil penguraian sisa makhluk hidup (misalnya daun dan ranting).
-
Air tanah
-
Udara tanah
Komposisi ideal yang sering disebut baik untuk pertumbuhan tanaman adalah: mineral 45%, bahan organik 5%, air 25%, dan udara 25%. Namun dalam kenyataan, persentase ini dapat berbeda-beda pada setiap wilayah, tergantung iklim, vegetasi, dan kondisi lahan.
Karakteristik Tanah: Apa yang Membuat Tanah Berbeda?
Setiap tanah memiliki karakter khas. Perbedaan ini umumnya tampak pada:
1) Tekstur tanah
Tekstur ditentukan oleh perbandingan tiga partikel utama: pasir, lanau (debu), dan lempung.
-
Tanah berpasir cenderung mudah mengalirkan air (drainase cepat).
-
Tanah berlempung mampu menahan air lebih lama, tetapi bisa menjadi liat.
-
Campuran seimbang pasir-lanau-lempung sering disebut geluh (loam), yang umumnya cocok untuk pertanian.
2) Warna tanah
Warna tanah mudah dikenali dan sangat bervariasi: hitam, cokelat, merah, kuning, hingga putih.
-
Warna gelap sering menandakan kandungan bahan organik tinggi.
-
Warna merah atau kuning biasanya berkaitan dengan kandungan besi yang teroksidasi.
-
Pola warna bertotol-totol dapat mengindikasikan kondisi tanah yang sering tergenang (suasana reduktif).
3) Struktur tanah
Struktur berkaitan dengan bentuk agregat (butiran) tanah dan ruang antaragregat yang disebut pori. Struktur tanah yang baik memiliki keseimbangan makropori (untuk udara) dan mikropori (untuk air), sehingga akar tanaman bisa “bernapas” sekaligus mendapat pasokan air cukup.
Klasifikasi Tanah: Mengapa Banyak Sekali Jenisnya?
Klasifikasi tanah dibuat karena tanah sangat beragam dan selalu mengalami perubahan. Para ahli mengklasifikasikan tanah berdasarkan ciri fisik-kimia, profil horizon, bahan induk, hingga proses pembentukannya.
Di Indonesia, salah satu rujukan lokal adalah Sistem Dudal–Soepraptohardjo, yang kemudian dimodifikasi oleh lembaga penelitian tanah. Secara global, klasifikasi tanah juga sering merujuk pada sistem USDA dan sistem yang dikembangkan FAO yang kemudian berkembang menjadi WRB (World Reference Base for Soil Resources).
Klasifikasi ini penting karena membantu menentukan pemanfaatan lahan yang tepat—misalnya, mana tanah yang cocok untuk padi, hortikultura, tanaman keras, atau lahan yang perlu perlakuan khusus.
baca juga: intensif utbk
Jenis-Jenis Tanah di Indonesia dan Persebarannya
Berikut rangkuman jenis tanah yang paling sering dibahas, lengkap dengan ciri umum dan persebarannya di Indonesia.
1) Tanah Aluvial (Tanah Endapan / sering dikaitkan dengan Entisol di beberapa sumber)
Tanah aluvial terbentuk dari endapan material sungai, banyak ditemukan di dataran rendah dan wilayah hilir. Warnanya kelabu hingga cokelat, teksturnya bisa liat berpasir dan relatif subur.
Cocok untuk: padi, palawija, tebu, tembakau, kelapa, buah-buahan.
Persebaran: banyak di wilayah dataran rendah berbagai pulau (Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua), juga di sekitar aliran sungai besar.
2) Tanah Andosol (Vulkanik)
Tanah andosol berasal dari material letusan gunung api yang mengendap dan mengalami pelapukan. Cenderung sangat subur, kaya mineral dan unsur hara. Warnanya kelabu atau cokelat keabuan.
Cocok untuk: hortikultura, sayuran, perkebunan.
Persebaran: pulau-pulau dengan gunung api seperti Jawa, Bali, sebagian Sumatra, Nusa Tenggara, dan Lombok.
3) Tanah Regosol (Tanah Muda)
Regosol adalah tanah muda yang profilnya belum berkembang jelas. Teksturnya sering berpasir, kesuburannya rendah hingga sedang. Biasanya dijumpai di sekitar gunung api atau wilayah berpasir.
Cocok untuk: tanaman semusim dengan pengolahan yang tepat.
Persebaran: daerah gunung api aktif/tidak aktif, juga beberapa wilayah pantai berpasir.
4) Tanah Latosol
Latosol termasuk tanah yang lebih tua, horizon tanahnya sudah berkembang. Warnanya cokelat kemerahan hingga kuning. Kandungan bahan organik bervariasi.
Cocok untuk: beragam tanaman, tetapi perlu pengelolaan kesuburan.
Persebaran: hutan tropis dan wilayah lembap seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, Papua, Sulawesi, Lampung, serta beberapa wilayah Sumatra.
5) Tanah Laterit
Laterit terbentuk dari pencucian intensif pada wilayah bercurah hujan tinggi. Unsur hara mudah terbawa air sehingga tanahnya kurang subur dan berwarna merah kecokelatan.
Cocok untuk: tanaman tertentu seperti kelapa dan jambu mete (dengan pengelolaan).
Persebaran: Kalimantan Barat, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, Sulawesi Tenggara.
6) Tanah Litosol
Litosol adalah tanah yang masih muda dari batuan keras, butirannya besar, dan sering ditemukan di lereng pegunungan yang mengalami erosi.
Cocok untuk: vegetasi hutan atau tanaman keras tertentu, kurang ideal untuk pertanian intensif.
Persebaran: daerah lereng dan pegunungan seperti Jawa, Madura, dan Nusa Tenggara.
7) Tanah Grumusol
Grumusol umumnya berasal dari batu kapur, mergel, atau bahan lempung tertentu. Kandungan liat tinggi membuat tanah ini bisa retak saat kemarau. pH-nya cenderung netral hingga basa.
Cocok untuk: beberapa tanaman semusim (padi, jagung, tebu, tembakau, kedelai) dengan pengaturan air yang baik.
Persebaran: Jawa Tengah (Demak, Jepara, Pati, Rembang), Jawa Timur (Ngawi, Madiun), serta Nusa Tenggara Timur.
8) Tanah Organosol (Gambut)
Organosol terbentuk dari penumpukan sisa tumbuhan di daerah tergenang air (rawa), sehingga pembusukan tidak sempurna. Warnanya hitam, kaya bahan organik, cenderung asam dan memerlukan perlakuan khusus.
Cocok untuk: karet, kelapa, palawija tertentu (dengan teknik pengelolaan lahan).
Persebaran: Sumatra, Kalimantan Barat, Riau, Jambi, dan bagian Papua.
9) Tanah Mediteran (Kapur Merah)
Tanah mediteran berasal dari pelapukan batu kapur keras dan batuan endapan. Warnanya merah hingga cokelat, unsur haranya relatif sedikit.
Cocok untuk: palawija, jati, tembakau.
Persebaran: Nusa Tenggara, Sulawesi Tengah, Maluku, Jawa Tengah, Jawa Timur.
10) Tanah Rendzina (Kapur Hitam)
Rendzina terbentuk dari pelapukan kapur di daerah karst dengan kondisi tertentu. Warnanya cokelat kehitaman bercampur putih, unsur haranya rendah.
Cocok untuk: tanaman keras semusim seperti jati.
Persebaran: kawasan pegunungan kapur di Jawa dan beberapa wilayah seperti Maluku, Papua, Aceh, Lampung.
11) Tanah Podzolik
Podzolik sering terbentuk dari bahan pasir kaya kuarsa di daerah bersuhu relatif rendah dan curah hujan tinggi. Tanah ini cenderung kurang subur.
Cocok untuk: kelapa dan jambu mete (dengan pengelolaan).
Persebaran: pegunungan tinggi di Jawa Barat, Maluku, Sulawesi, Papua.
12) Tanah Podzolik Merah Kuning
Tanah ini berwarna merah hingga kuning, unsur haranya rendah, bertekstur liat dengan struktur menggumpal.
Cocok untuk: beberapa komoditas tertentu dengan pemupukan dan pengapuran yang tepat.
Persebaran: wilayah berbukit beriklim basah seperti dataran tinggi Sumatra, Jawa Barat, Maluku, Papua, Nusa Tenggara.
Keragaman tanah di Indonesia adalah hasil interaksi panjang antara batuan, iklim tropis, organisme, topografi, dan waktu. Karena tiap jenis tanah punya karakter berbeda, pemanfaatannya pun tidak bisa disamaratakan. Ada tanah yang sangat subur dan ideal untuk pertanian, ada pula tanah yang perlu perlakuan khusus agar tetap produktif.
Kalau kamu ingin belajar materi Geografi/IPS lebih terarah—mulai dari proses pedogenesis, klasifikasi tanah, sampai latihan soal dan pembahasan—kamu bisa belajar bareng tutor yang paham konsep sekaligus aplikasinya.
Yuk konsultasi dan mulai belajar sekarang! Hubungi kami melalui Telepon (021) 77844897 atau chat WhatsApp 087896080154, dan kunjungi www.tutorindonesia.co.id untuk info program belajar dan pendampingan yang sesuai kebutuhanmu.
Referensi:
- www.gramedia.com
- www.detik.com






